Tuesday, 23 May 2017

Buku Tentang Metode Menulis Permulaan Forex


(KODE. PTK-0099). SKRIPSI PTK PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA MENULIS PERMULAAN DENGAN METODE KATA LEMBAGA (BAHASA INDONESIA KELAS II) A. LATAR BELAKANG Pembelajaran bahasa Indonésia memang memiliki kedudukan yang sangat penting. Keterampilan berbahasa yang perlu ditekankan adalah mendengarkan, membaca, berbicara dan menulis. Pembelajaran Bahasa Indonesia dapat menjadi media menanamkan nilai-nilai keIndonesiaan pada anak didik, misalnya. Wacana yang berkaitan dengan Tokoh Nasional, Kepahlawanan, Kesusastraan e Kepariwisataan. Setelah itu, melalui pembelajaran membaca, guna dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan, penalaran dan kreatifitas anak didik. Membaca dan menulis merupakan jenis kemampuan berbahasa tulis, seseorang dapat memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan dan tulisan akan memungkinkan orang mampu mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya dan memperluas wawasannya. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang diperlukan oley siapapun yang ingin maju dan meningkatkan diri. Kemampuan membaca menulis merupakan salah satu kunci keberhasilan siswa dalam meraih kemajuan dengan kemampuan yang memadai siswa akan lebih mudah menggali informasi dari berbagai sumber tertulis. Upaya pengembangan dan peningkatan kemampuan membaca diantaranya dilakukan melalui pembelajaran di sekolah-sekolah dasar sebagai penggalan pertama pendidikan dasar yang harus mampu membekali dengan dasar-dasar kemampuan membaca dan menulis yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Betapa pentingnya di Sekolah Dasar, karena memiliki fungsi setrategis dalam usaha peningkatan sumberdaya manusia. Membaca permulaan sebagai kemampuan dasar membaca siswa dan alat bagi siswa untuk mengetahui makna dari isi mata pelajaran yang dipelajarinya di sekolah. Makin cepat siswa dapat membaca makin besar peluang untuk memahami isi makna mata pelajaran di sekolah. Namun pada akhir tahun pelajaran masih juga terdapat siswa yang tidak dapat membaca dan menulis. Keadaan ini terjadi pada siswa kelas I maupun siswa yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran membaca di sekolah dasar belum ideal. Masih dalam menguasai huruf. Dengan demikian akan sangat mempengaruhi keberhasilan siswa tersebut dalam belajar atau menerima mata pelajaran yang dipelajari di sekolah. Faktor-faktor penyebab belum berhasilnya pembelajaran membaca dan menulis permulaan dan menulis permulaan di kelas satu sangat kompleks. Faktor ini berasal dari berbagai dimensi, yaitu. Pesan, orang, bahan peralatan, teknik, serta latar belakang siswa. Secara khusus faktor yang diduga paling dominan mempengaruhi pembelajaran membaca dan menulis permulaan adalah yang menyangkut pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Kemampuan menulis merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat produktif. Artinya kemampuan menulis ini merupakan kemampuan yang menghasilkan tulisan. Menulis merupakan kegiatan yang memerlukan kemampuan yang bersifat kompleks. Kemampuan-kemampuan yang diperlukan itu dapat diperoleh melalui proses yang panjang. Sebelum sampai pada tingkat mampu menulis, siswa harus mulai dari tingkat awal, tingkat permulaan, mulai dari pengenalan lambang-lambang bunyi. Pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh pada tingkat permulaan pada pembelajaran menulis permulaan itu, akan menjadi dasar peningkatan dan kemampuan siswa selanjutnya. Apabila dasar itu baik, kuat, maka dapat diharapkan hasil pengembangannya pun akan baik pula, dan apabila dasar itu kurang baik atau lemah, maka dapat diperkirakan hasil pengembanganya akan kurang baik juga. Sebagaimana diketahui bahwa masalah kemajuan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan diperoleh dari berbagai segi diantaranya lewat membaca dan menulis. Awalnya membaca permulaan yang diajarkan di bangku sekolah dasar. Namun demikian tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk mengajari siswa dapat lancar membaca dan menulis konsonan rangkap. Banyak saya jumpai di kelas II SDN X dari 50 siswa yang belum lancar membaca 42 dan yang belum lancar menulis 58. Padahal untuk menuju keberhasilan belajar yang maksimal diantaranya harus lewat membaca, baik membaca buku-buku pelajaran, membaca buku-buku perpustakaan, membaca surat Kabar membaca karya ilmiah dan lain-lain Belajar membaca dengan menggunakan kata lembaga anak mudah memahami dan mencerna materi yang desajaja guru. Anak mudah menghafal huruf suku kata kata atau sebaliknya. Anak mudah mengingat materi pelajaran yang desajaja guru. Bertolak dari permasalahan di ATAS, peneliti tertarik untuk meningkatkaan kemampauan membaca permulaan dengan mengadakan penelitian dengan mengangkat judul PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA MENULIS PERMULAAN dengan METODE Kata Lembaga DI Kelas II SDN XB IDENTIFIKASI Masalah Ada beberapa Faktor Yang menyebabkan siswa Belum lancar membaca kalimat dan Belum lancar menulis Kata Yang berkonsonan rangkap diantaranya siswa belum hafal betul tentang abjad, sehingga pada waktu membaca sesekali masih mengingat-ingat huruf apa yang sedang dibaca bahkan sesekali masih mengeja. Ada pula yang disebabkan kurangnya latihan membaca yang dikarenakan anak malas belajar karena pengaruh lingkungan, misalnya waktunya belajar ada beberapa teman yang sedang bermain maka ikutlah anak tersebut ikut bermain sehingga lupa belajar. Pembelajaran membaca menulis permulaan sebenarnya lebih banyak dipelajari ketika duduk di bangku kelas I, namun masih ada siswa siswi yang belum lancar membaca menulis. Dengan demikian peneliti memberi pembelajaran membaca menulis permulaan dengan metode eja. Ternyata dengan metode eja kurang efektif, karena siswa menjadi terbiasa mengeja di saat membaca. Akhirnya peneliti memilih menggunakan metode kata lembaga. Diharapkan dengan metode kata lembaga siswa siswi lebih semangat belajar dan lebih mudah memahaminya, sehingga lebih lancar dalam membaca menulis. C. PEMBATASAN MASALAH Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik. sehingga mampu menumbuhkan kebiasaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Kegiatan membaca permulaan tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan menulis permulaan. Artinya, kedua macam keterampilan berbahasa tersebut dapat dilatihkan secara bersamaan. Ketika siswa belajar membaca, siswa juga belajar mengenal tulisan yakni berupa huruf, sukukata, kata, kalimat yang dibaca. Setelah belajar membaca satuan unidade bahasa tersebut, siswa perlu belajar bagaimana menuliskannya. Demikian pula sebaliknya, ketika siswa belajar menulis huruf-suku kata-kata-kalimat, siswa juga belajar bagaimana cara membaca satuan unidade bahasa tersebut. Metode kata lembaga memulai mengajar membaca dan menulis permulaan dengan mengenalkan kata, menguraikan kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf, kemudian menggabungkan huruf menjadi suku kata, dan suku kata menjadi kata, dan selanjutnya memvariasikan huruf yang sudah dikenal menjadi suku kata dan kata lain . Untuk meningkatkan kemampuan membaca menulis permulaan siswa kelas II SDN X, maka peneliti mengadakan pembelajaran membaca menulisa permulaan dengan menggunakan metode kata lembaga. Dengan penelitian ini peneliti memberi batasan yaitu sampai pada siswa dapat membaca menulis kalimat dengan lancar. Cara peneliti untuk mengetahui dan memperoleh hasilnya, peneliti mengadakan tes pra perwaikan dan tes setelah perbaikan. D. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Apakah metode kata lembaga dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan di kelas II SDN X 2. Apakah metode kata lembaga dapat meningkatkan kemampuan menulis permulaan di kelas II SDN X 3. Bagaimana cara menggunakan metode kata lembaga dalam meningkatkan kemampuan membaca menulis permulaan di kelas II SDN X E. TUJUAN PENELITIAN 1. Untuk mengetahui keefektifan metode kata lembaga di kelas II SDN X. 2. Memaparkan cara menggunakan metode kata lembaga untuk meningkatkan kemampuan membaca menulis permulaan di Kelas II SDN XF MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat teoretis Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan penanji selanjutnya. 2. Manfaat praktis a. Bagi peneliti, bermanfaat menemukan solusi untuk meningkatkan kemampuan membaca menulis permulaan. B. Bagi siswa dapat meningkatkan kemampuan membaca menulis sehingga prestasinya meningkat. C. Bagi guru sebagai tindakan untuk meningkatkan kemampuan membaca menulis permulaan. D. Bagi sekolah penelitian ini merupakan sumbangan yang bermanfaat dalam rangka perbaikan pembelajaran membaca menulis permulaan.1. A. Latar Belakang Sebagaimana kita semua ketahui, tujuan akhir kita dari pengajaran bahasa Indonésia adalah siswa terampil berbahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan berbahasa tercermin dalam empat aspek ketrampilan berbahasa, yakni berbicara, membaca dan menulis. Pemerolehan ketrampilan berbahasa selalu saling terkait, artinya pemerolehan ketrampilan berbahasa yang satu akan mendasari ketrampilan lainnya. Ketrampilan membaca itu sendiri adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari suatu yang ditulis. Ketrampilan membaca dan menulis ini diperoleh seseorang setelah mereka memasuki usia sekolah. Oleh karena itu, kedua jenis ketrampilan berbahasa ini merupakan sajian pembelajaran yang utama dan utama bagi para murid-murid sekolah dasar di kelas awal. Kedua materi ketrampilan ini dikemas dalam satu paket pembelajaran yang dikenal dengan paket membaca, menulis permulaan. Untuk itu makalah ini kami buat untuk menjelaskan bagaimana evaluasi pembelajaran bahasa, terutama membaca dan menulis permulaan di kelas dasar atau kelas awal. 2. Tujuan penulisan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah. - Mendefinisikan pengertian dari ketrampilan membaca. Menulis permulaan. - Mengetahui metode pembelajaran pembelajaran bahasa membaca, menulis permulaan. - Menambah pengetahuan tentang evaluasi pembelajaran bahasa, terutama membaca dan menulis permulaan. 3. Kajian pustakan Bahan-bahan makalah ini kami ambil dari referensi buku dan situs-situs internet yang berbeda-beda supaya dados yang kami kumpulkan tentang evaluasi pembelajaran bahasa, terutama membaca dan menulis permulaan. Untuk lebih jelasnya kami akan lampirkan pada daftar pustaka sumber-sumber yang kami ambil. A. Pembelajaran Membaca de Menulis permulaan Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informada dari sesuatu yang di tulis. Membaca melibatkan pengenalan símbolo yang menyusun sebuah bahasa. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor. Sebagian besar kebsatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Tampilan komputer dapat pula dibaca. Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain, yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendingiri. Membaca merupakan kegiatan yang membutuhkan keseimbangan yang baik, dimulai dari mulai gerakan mata dan pemantapan pemikiran serta kemampuan untuk menerima informasi dan menelaah informasi tersebut. Dibutuhkannya keseimbangan yang baik dan akurat agar kita mampu menerima informasi secara tepat dan mengingat informasi tersebut saat kita perlukan. Dalam membaca dibutuhkan pula kosentrasi agar kita bisa menyimpan informasi secara maksimal. Semakin sering kita membaca maka semakin baik pula kemampuan membaca kita. Para ahli telah mendefinisikan tentang membaca dan tidak ada critérios tertentu untuk menentukan suatu definisi yang dianggap paling besar. Menurut Hariss dan Sipay (19808) membaca sebagai suatu kegiatan yang memberikan respon makna secara tepat terhadap lambing verbal yang tercetak atau tertulis. Pemahaman atau makna dalam membaca lahir dari interaksi antara presepsi terhadap símbolo grafis dan ketrampialn berbahasa serta pengatahuan pembaca. Dalam interaksi ini, pembaca berusaha mencipatakan kembali makna sebagaimana makna yang ingin disampaikan oleh penulis dan tulisannya. Dalam proses membaca itu pembaca mencoba mengkreasikan apa yang dimaksud oleh penulis. B. Pengertian Membaca e Menulis permulaan Membaca. Menulis permulaan merupakan programa pembelajaran yang diorientasikan kepada kemampuan membaca dan menulis permulaan de kelas-kelas awal pada sat anak-anak mulai memasuki bangku sekolah. Pada tahap awal anak memasuki bangku di kelas 1 sekolah dasar, Membaca dan menulis permulaan merupakan menu utama. Kemampuan membaca permulaan lebih diorientasikan pada kemampuan membaca tingkat dasar, yakni kemampuan melek huruf. Maksudnya, anak-anak dapat mengubah dan melafalkan lambing-lambang tertulis menjadi bunyi-bunyi bermakna. Pada tahap ini sangat dimungkinkan anak-anak dapat melafalkan lambing-lambang huruf yang dibacanya tanpa diikuti oleh pemahaman terhadap lambing bunyi-bunyi tersebut. Kemudian kemampuan menulis permulaan tidak jauh berbeda dengan kemampuan membaca permulaan. Pada tingkat dasarpermulaan, pembelajaran menulis lebih diorientasikan pada kemampuan yang bersifat mekanik. Anak-anak dilatih untuk dapat menuliskan (mirip dengan kemampuan melukis atau menggambar) lambang-lambang tulis yang jika dirangkaikan dalam sebuah struktur, lambang-lambang itu menjadi bermakna. Selanjutnya dengan kemampuan dasar ini, secara perlahan-lahan anak-anak cavando pada kemampuan menuangkan gagasan, pikiran, perasaan, ke dalam bentuk bahasa tulis melalui lambing-lambang tulis yang sudah dikuasainya. Inilah kemampuan menulis yang sesungguhnya. C. Metode Pembelajaran Membaca de Menulis permulaan Pembelajaran membaca dan manulis permulaan dengan metodenya ini memulai pengajarannya dengan memperkenalkan huruf-huruf secara alfabetis. Huruf-huruf tersebut dihafalkan dan dilafalkan anak sesuai dengan bunyinya menurut abjad. Sebagai contoh Aa, Bb, Cc, Dd, Ee, Ff, dan seterusnya, dilafalkan sebagai (a), (be), (ce), (de), (e), (ef), dan seterusnya. Kegiatan ini diikuti dengan latihan menulis lambang, tulisan, seperti a, b, c, d, e, f, dan seterusnya. Setelah melalui tahapan ini, para siswa diajak untuk berkenalan dengan suku kata dengan cara merangkaikan beberapa huruf yang sudah di kenalnya misalnya. B, a, d, u menjadi ba ba (dibaca atau diejabe-a (ba) du du (dibaca atau diejade-u (du) ba-du dilafalkan badu proses ini sama dengan menulis permulaan, setelah anak-anak bisa menuliskan huruf - Huruf lepas, kemudian dilanjutkan dengan belajar menulis rangkaian huruf yang berupa suku kata. Sebagai contoh, ambilah kata 8216 badu8217 tadi, selanjutnya, anak diminuta menulis seperti ini. Ba-du badu. Proses pembelajaran selanjutnya adalah pengenalan kalimat-kalimat sederhana. Contoh-contoh Perangkaian huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat diupayakan mengikuti prinsip pendekatan espiral, pendekatan komunikatif, e pengalaman berbahasa. Proses pembelajaran membaca permulaan pada metode bunyi ini berasal dari pertama atau pemula dari kata yang ia dengar, melalui proses pelatihan Dan Proses tubian. Prinsip dasar de proses pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan metode ejaabjad. 3. Metode Suku Kata Proses pembelajaran membaca de menulis permulaan deng Um metodo ini diawali denga pengenalan suku kata, seperti: ba, bi, bu, be, bo ca, ci, cu, ce, co, da, di, du, de ka, ki, ku, ke, ko. Dan seterusnya. Duku-suku kata tersebut, kemudian dirangkaikan menjadi kata-kata bermakna. Sebagai contoh, dari daftar suku kata tadi, guru dapat membuat berbagai variasi paduan suku kata menjadi kata-kata bermakna, untuk bahan ajar membaca, menulis permulaan. Proses pembelajaran membaca, menulis permulaan seperti yang digambarkan dalam langkah-langkah di asas dapat pula dimodifikasi dengan mengubah objek pengenalan awalnya. Sebagai contoh proses pembelajaran membaca, menulis permulaan diawali dengan pengenalan sebuah kata tertentu. Kata ini kemudian dijadikan lembaga sebagai dasar untuk pengenalan suku kata dan huruf. 5. Metode Global Metode ini sering dikatakan dengan metode kalimat. Dikatakan demikian karena alur proses pembelajaran membaca, menulis permulaan yang diperlihatkan melalui metode ini diawali dengan penyajian beberapa kalimat secara global. Sebagai contoh. Memperkenalkan gambar, mengurangi salah satu kalimat menjadi kata kata menjadi suku kata dan suku kata menjadi huruf-huruf. 6. Metode Struktural Analitik Sintetik Metodo ini merupakan salah satu jenis metode yang bisa digunakan untuk proses pembelajaran mambaca dan menulis permulaan bagi siswa pemula. Kemudian melalui proses analitik, anak-anak diajak untuk mengenal konsep kata. Kalimat utuh yang dijadikan tonggak dasar untuk pembelajaran membaca permulaan ini diuraikan ke dalam satuan-satuan bahasa yang lebih kecil di sebut kata. Proses penganalisisan atau penguraian ini terus berlanjut hingga pada wujud satuan bahasa terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi, yakni huruf-huruf. Proses pengurain ini dalam pembelajaran dengan metode SAS meliputi. Kalimat menjadi kata-kata, kata menjadi suku-suku kata, suku kata menjadi huruf-huruf. D. MODELO PEMBELAJARAN MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN Pada bagian ini kita akan berlatih bagaimana melaksanakan pembelajaran membaca dan menulis permulaan dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas dengan mengambil salah satu metode tertentu. Yang perlu anda pahami adalah konsep-konsep pokok langkah-langkah pembelajaran membaca dan menulis permulaan yang berlandasan pada penggunaan metode membaca dan menulis permulaan tertentu. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar membaca dan menulis permulaan ini terbagi kedalam dua tahapan sebagai berikut: 1.pembelajaran tanpa buku. 2.pembelajaran dengan menggunakan buku. 1. Langkah-langkah pembelajaran MMP tanpa buku

No comments:

Post a Comment